Kamis, 12 November 2009

MAHABBAH



Jiwa Merindukan Surga


Kenikmatan dan keindahan apalagi yang akan engkau rasakan selain kenikmatan dalam mencintai-Nya dalam hidup ini? Percayalah, bila hal ini terjadi pada dirimu, engkau telah merasakan manisnya surga sebelum engkau merasakan surga yang sebenarnya.

Hatimu memancarkan kebahagiaan karena penuh dengan cahaya Cinta-Nya. Ada surga di pelupuk mata saat engkau melihat dan terpejam. Ada surga di telinga saat kau mendengar. Ada surga di lidah saat kau diam dan bicara.

Apa yang kau rasakan di dalam perutmu kau rasakan bagai makanan surga. Rasa laparmu menimbulkan kerinduan mendalam bersama ingatan akan kekasihmu, Allah...Rabbuna wa Rabbukum. Inilah buah cinta sejati yang manisnya akan terasa hingga dibawa mati. Hidupmu penuh berkah. Wajahmu memancarkan cahaya. Doamu dikabulkan. Permohonanmu diijabah. Inilah buah cinta para kekasih-Nya, yaitu para nabi, rasul, wali, shiddiqin, syuhada, dan shalihin.

Karena kasih sayang dan cinta-Nya yang mendalam, doa para kekasih-Nya dikabulkan. Sulaiman 'alaihis salam meminta kerajaan, Allah kabulkan. Ibrahim 'alaihis salam memohon anak dan kemakmuran negeri Makkah, Allah kabulkan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memohon banyak permintaan, Allah kabulkan.

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah berkata, "Sungguh, saya memiliki jiwa perindu. Jiwa merindukan kepemimpinan, maka saya mendapatkannya; merindukan khalifah, maka saya meraihnya, dan sekarang jiwa itu merindukan surga."
Umar bin Abdul Aziz pernah menjadi gubernur Madinah dan menjadi khalifah. Lalu beliau mati syahid, sebab saat terakhir itu jiwanya merindukan surga-Nya.

Rabu, 21 Oktober 2009

RENUNGAN KEPEMIMPINAN UMAT



Presiden yang Dirindukan Surga

Pasangan presiden dan wapres terpilih Susilo Bambang Yudoyono & Boediono telah dilantik untuk memimpin bangsa ini untuk periode 2009-2014. Banyak sikap dan komentar yang bermunculan atas pelantikan presiden dan wapres terpilih itu. Sebagian masyarakat memandangnya dengan perasaan optimis dan penuh harapan terhadap kepemimpinan SBY-Boediono. Akan tetapi, sebagian elemen masyarakat merasa pesimis dengan duet kepemimpinan kedua putra bangsa itu. Artinya, mereka tidak yakin akan terjadi perubahan positif yang signifikan bagi bangsa yang sedang menghadapi carut-marut persoalan yang tiada henti-hentinya ini.


Sebagai negara yang berpenduduk Muslim terbesar di planet bumi ini, bangsa Indonesia sangat menaruh harapan kepada presidennya. Di pundak sang presiden beserta jajarannya terletak harapan dan impian anak-anak bangsa. Mereka sangat merindukan kepemimpinan yang sangat peduli dengan nasib rakyatnya, baik rakyat dari kalangan menengah ke atas, maupun dari kalangan menengah ke bawah. Pemimpin yang adil, arif dan bijak. Bukan hanya adil, arif, dan bijak pada golongan tertentu, tetapi semua lapisan masyarakat sampai akar rumput. Di pundak presiden dan para jajarannya terpikul tanggung jawab yang sangat berat, yaitu tanggung jawab kepemimpinan. Tugas kepemimpinan yang super berat itu, bukan hanya dimintai pertanggung jawabannya di dunia, tetapi juga di akhirat. Bahkan di akhiratlah tanggung jawab itu akan dikupas habis dalam Mahkamah Pengadilan Ilahiyah, hingga nilai-nilai keadilan dan kebenaran akan terkuak dengan jelas, tanpa ada rekayasa.


Dalam terminologi Islam, tanggung jawab kepemimpinan mendapatkan perhatian yang sangat besar, sebab hal itu menyangkut nasib umat, bangsa, atau masyarakat luas. Dalam satu sisi, kepemimpinan sentral dianggap sebagai beban yang sangat berat, tetapi di sisi lain, ia dapat dijadikan sebagai "loncatan amal" dan "kesempatan sangat berharga" untuk meraih kedudukan yang sungguh-sungguh mulia di negeri akhirat, dengan syarat ia harus menjadi pemimpin yang benar-benar adil, arif, bijak, dan menjalankan syariat-Nya. Bila hal itu benar-benar diaplikasikan oleh seorang pemimpin bangsa (umat), maka ia akan mendapatkan kompensasi pahala yang sungguh luar biasa: ia akan mendapatkan perlindungan Allah 'Azza Wa Jalla di hari Kiamat. Subhanahllah!


Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,
"Tujuh macam golongan orang yang akan mendapatkan naungan (perlindungan) Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan Allah, yaitu:
(1) pemimpin yang adil,
(2) pemuda yang rajin beribadah kepada Allah,
(3) orang yang hatinya selalu tertambat dengan masjid,
(4) dua orang yang berkasih sayang karena Allah, baik saat berkumpul maupun ketika berpisah,
(5) lelaki yang diajak berzina oleh wanita cantik dari kalangan bangsawan, lalu ia menolaknya dengan mengatakan, "Saya takut kepada Allah",
(6) orang yang bersedekah dengan cara sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya,
(7) orang yang berzikir kepada Allah di saat yang sunyi, lalu kedua matanya berlinang airmata (karena takut dan rindu kepada Allah)." (HR. Bukhari dan Muslim)


Sebaliknya, pemimpin yang tidak adil, suka menipu, gemar berbohong, dan kejam kepada rakyat, maka ia haram masuk ke dalam surga-Nya.


Diriwayatkan dari Abu Ya'la Ma'qil bin Yasar radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


"Tiada seorang pun yang diamanati oleh Allah untuk memimpin rakyat, kemudian ketika ia meninggal dunia dalam kondisi menipu rakyatnya, maka Allah pasti mengharamkan surga baginya." (HR. Muslim)


Diharamkan surga dalam konteks hadis tersebut di atas, dengan kata lain ia mendapat suatu kepastian di akhirat berupa azab api neraka. Na'udzubillah.


Dari kedua hadis shahih di atas, dapat direnungkan, bahwa kepemimpinan merupakan "lahan subur pahala" bagi seseorang yang mendapatkan amanat kepemimpinan. Sebaliknya, kepemimpinan juga merupakan "kubangan lumpur penuh dosa" bagi para pemimpin yang menyalahi amanat kepemimpinan bagi rakyatnya.


Semoga para pemimpin bangsa ini, mulai dari presiden, wapres, MPR, DPR, para menteri, dan jajaran kepemimpinan lainnya, dapat menjalankan amanat kepemimpinan dengan sebaik-baiknya.


Wahai para pemimpin umat, selamat menjalankan amanat yang sungguh berat ini...!

Kamis, 01 Oktober 2009

GEMPA DAN DOSA

















Segala Peristiwa Pasti Ada Hikmahnya
Tanggal 30 September 2009 Sumatera diguncang gempa berukuran 7,6 Skala Richter. Rumah-rumah penduduk banyak yang ambruk. Gedung-gedung menyisakan puing-puing reruntuhan. Ratusan jiwa melayang. Ketika berita duka ini ditulis, lebih dari 400 jiwa melayang. Ratusan jiwa atau mungkin ribuan orang luka-luka parah.

Belum lagi kegelisahan kita reda akibat bencana alam berupa yang menimpa saudara-saudara kita di Cianjur, Tasikmalaya, dan sekitarnya; juga tragedi jebolnya waduk Situ Gintung dekat Ibukota Jakarta, gempa Jogja, dan Tsunami Aceh yang menewaskan ratusan ribu nyawa, kita dikejutkan kembali dengan bencana alam yang sungguh memilukan itu, susul-menyusul, entah sampai kapan darah, luka dan regangan nyawa itu berakhir di bumi pertiwi yang kita cintai ini.



Ketika saya menulis buku Kisah-Kisah Mengharukan di Balik Tragedi Tsunami 2004, ada perasaan teramat trenyuh dan kosong melompong dalam jiwa ini, seakan hanyut dalam derita yang sungguh mencekam itu. Saya sepertinya menjadi warga Aceh, padahal asli orang Jawa yang merasakan kegelisahan batin untuk beberapa bulan lamanya. Bahkan kegelisahan itu masih tersisa hingga saat ini, seakan peristiwa super dahsyat itu baru terjadi kemarin. Saya turut merasakan dampaknya dalam alam pemikiran dan kesadaran.



Lalu bencana demi bencana susulan, kembali terjadi di negeri ini, seakan tak pernah usai ditelan waktu dan usia. Ya Allah, ada apa ini?! Demikian hati ini selalu bertanya-tanya dalam kegelisahan batin yang tak berkesudahan. Apa yang salah dengan negeri tercinta ini?! Lalu, apa kaitannya dengan ramalan Joyoboyo dengan prediksi "no to no goro" yang terkenal itu?!



"Ah, jangan kau percayai ramalan itu! Toh, Joyoboyo bukan nabi. Bukan rasul. Kau hanya percaya dengan ramalam Sang Nabimu dari Arab itu!" bisik hatiku.

Lalu apa yang terjadi dengan sebenarnya?!

Hup! Seketika aku teringat nyanyian Ebiet G Ade yang fenomenal itu:


"...Mungkin Tuhan mulai bosan

melihat tingkah kita

yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

atau alam mulai enggan 

bersahabat dengan kita

coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang..." 



Salah dan dosa?!

Ah, apa pula itu?! Sebagai mantan mahasiswa yang sering dijejali pikiran ilmiah, rasanya tidak mudah begitu saja menerima jawaban itu. Bencana ya bencana. Gempa ya gempa. Banjir ya banjir. Tsunami ya tsunami. Itu kan peristiwa alam yang bisa dialami oleh siapa saja, bangsa apa saja, mukimin atau non mukmin, muslim atau non muslim. Semuanya bisa saja mengalaminya kalau memang bencana itu menimpa dirinya.

Namun lagi-lagi jiwa ini selalu saja resah untuk mencari jawabnya. Lalu, seperti biasanya, logika ini dituntun oleh bisikan halus untuk mencari literatur-literatur Ilahiyah dan Nubuwwah. Hal ini aku lakukan, semata-mata meneladani pesan spiritual dari orang nomor satu di dunia, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk selalu berpegang pada Kitab-Nya dan Sunnahnya, agar kita tidak tersesat dan terjebak oleh rasionalisasi sempit dan terbatas jangkauannya. Dan, ketika aku membaca pesan-pesan spiritual dari beliau itu, betapa terkejutnya hati ini,

"Kiamat tidak terjadi hingga ilmu (syari'at Islam) dihilangkan dan BANYAK TERJADI GEMPA." (HR. Bukhari)


"Kiamat tidak terjadi hingga dua kubu besar berperang dan GEMPA BUMI BANYAK SEKALI." (HR. Muslim)


Subhanallah! Kiamat?! Mendengar namanya saja sudah membuat hati dan jiwa bergetar. Merinding sukma sekujur jiwa. Jangan pernah kita dan anak cucu mengalami peristiwa yang dahsyatnya tidak bisa diukur dengan kata-kata, sebanyak apa pun. Namun, tunggu dulu. Saya masih teringat nama orang Aceh yang yang tersapu ombak Tsunami hingga tubuhnya terhanyut di Samudera Hindia. Namanya Rizal. Ia menyangka telah terjadi Kiamat saat Tsunami Aceh itu terjadi.



Satu hal lagi, tanda-tanda Kiamat sudah dekat adalah maraknya dosa dan perzinaan. Lihat dan renungkan, saat ini pergaulan remaja sudah sedemikian bebas dan bejatnya. Saya teringat sebuah penelitian yang dilakukan oleh Iip (maaf kalau salah sebut nama) di Jogja. Sebagai kota pelajar, Jogja telah dinodai oleh perilaku hubungan seks bebas antar pelajar dan mahasiswa, hingga ML atau zinah sebelum nikah dianggap biasa. Begitu juga di kota-kota lain di negeri tercinta ini. Betapa banyak bunga-bunga perawan yang jatuh berguguran sebelum pernikahan. Ya Allah, maafkanlah kesalahan kami dan saudara-saudara kami.



Pesan-pesan spiritual dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berikut ini patut menjadi renungan bersama,



"Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah....menyebarluasnya perzinaan." (HR. Bukhari dan Muslim)



"Akan datang kepada manusia, tahun-tahun yang menipu. Beliau berkata, "Dan fakhisyah (perbuatan keji, perzinaan) menyebar luas." (HR. Al-Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani)



"Akan ada di antara umatku, beberapa kaum yang menganggap halal zina dan sutera." (HR. Bukhari)



Di antara tanda Kiamat lainnya, yaitu urusan kaum Muslimin diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Apabila amanat telah disia-siakan, maka tunggulah Kiamat." Seseorang bertanya, "Bagaimana amanat itu disia-siakan?"  Beliau bersabda, "Jika urusan (kepemimpinan dan sebagainya) diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah Kiamat." (HR. Bukhari)



Masih banyak tanda-tanda Kiamat lainnya, baik kiamat kecil (kiamat shughra) maupun kiamat besar (kubra).



Sebelum saya akhiri tulisan ini, kita dapat merenungkan kata-kata bijak berikut ini,

"Ditenggelamkannya bumi telah terjadi di beberapa daerah di Timur dan Barat sebelum zaman kita sekarang. Di zaman kita sekarang juga banyak terjadi penenggalaman bumi di beberapa tempat berbeda. Itu merupakan peringatan dari Allah bagi hamba-hamba-Nya tentang semakin dekatnya kedatangan azab yang pedih serta hukuman bagi ahli bid'ah dan ahli maksiat, agar manusia bisa mengambil pelajaran, kembali bertobat kepada Rabb mereka, dan mengetahui bahwa Kiamat sudah dekat serta tidak ada tempat berlindung dari Allah, kecuali kepada-Nya jua." (Yusuf bin Abdullah Al-Wabil)



"Berbagai gempa telah mengguncang kita, tetapi bukannya bertobat kepada Allah dengan bersegera menerapkan syariat-Nya dalam kehidupan pribadi dan masyarakat kita, kita justru memperbincangkan gempa-gempa tersebut sebagai fenomena alam dan itu tidak terjadi pada kita saja, tetapi juga terjadi di tanah pendudukan Palestina, Yunani, dan Lebanon!! Lantas, yang terlintas di pikiran kita adalah mengimpor alat-alat pengukur gempa (termasuk alat pendeteksi tsunami, Pen) untuk mengukur kekuatan gempa tersebut. beginikah cara kita mencegah terjadinya siksa Allah ketika datang menimpa kita?!" (Sa'id Abdul 'Azhim)



Semoga bencana-bencana alam yang terjadi di negeri tercinta ini menjadi pembelajaran dan renungan yang mendalam bagi kita semua. Secara pribadi dan keluarga, saya mengucapkan:


"INNAALILLAAHI WA INNAA ILAIHI RAAJI'UUN. KAMI BERBELA SUNGKAWA YANG SEDALAM-DALAMNYA KEPADA PARA KORBAN BENCANA ALAM DI NEGERI INI, BAIK DI ACEH, JOGJA, CIANJUR, SITU GINTUNG, TASIKMALAYA, PADANG, PARIAMAN, DAN DI MANA SAJA MEREKA BERADA...


SEMOGA ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA SENANTIASA MEMBERIKAN KETABAHAN, KEKUATAN DAN KESABARAN."



Ya Allah, maafkan segala dosa, kekhilafan dan kesalahan kami di bumi pertiwi cipataan-Mu ini...



Kamis, 17 September 2009

MUDIK...YUK

Tidak terasa bulan Ramadhan 1430 H beberapa hari lagi akan berlalu. Bulan Ramadhan akan meninggalkan kita. Hampir satu bulan kita telah bercengkerama dengannya, dengan diliputi rasa haru, karena masih ada saja kekurangan yang mengganjal dalam kapasitas ibadah kita. 
   Sukses tidaknya kita di bulan Ramadhan ini tergantung dari amaliah-amaliah kita selama bulan puasa itu. Hati kita sendiri yang dapat menimbang-nimbang, sebesar apa nilai ibadah-ibadah yang telah kita jalani dalam penggemblengan di bulan Ramadhan. Jangan-jangan yang kita dapatkan hanya rasa lelah, lapar dan dahaga. Artinya, puasa Ramadhan sama sekali tidak membekas dalam jiwa kita. Semoga Allah 'Azza Wa Jalla senantiasa memaafkan segala khilaf dan kesalahan kita di bulan yang penuh berkah dan ampunan ini.
    Namun, lagi-lagi kesibukan duniawi selalu saja hadir di pelupuk mata. Belum lagi rasa lelah menghinggapi keseharian kita, muncul pula keinginan luar biasa untuk segera hengkang dari segala rutinitas. 
   "Mudik! Hayo cepat mudik!" 
   Bisikan kata-kata itu kian kuat menembus asa. Pulang kampung, Mas...Cepetan....Orang-orang tua dan sanak famili sudah lama menunggu di sana. Ingin bertemu dengan dirimu. Jangan mikirin kerjaan melulu. Sekali-kali refreshing, kek...Nih kita yang di kampung nyante aja masih bisa hidup, gak kayak yang di Jakarta. Tapi, ngomong-ngomong THR nya lumayan juga. Bagi dong....Bagi-bagi sedekah. Kita-kita yang di kampung ingin rasain manisnya duit orang-orang Jakarta. Beda loh rasanya...
    Demikian celotehan sanak famili di kampung...Mereka pikir orang-orang kerja di Jakarta banyak duitnya....Padahal, iya sih...terutama mereka yang bergaji besar. Tapi bagi karyawan biasa...?! Ah, jangan tanya itu, bisa-bisa bikin malu. Gengsi dong kerja jauh-jauh di Ibukota kalau hanya bergaji pas-pasan.
    Kendaraan para pemuduk terus melaju. Keceriaan tampak jelas di wajah mereka. Walau jalan raya macet dan tiket mahal, namun tidak mengurangi keceriaan mereka untuk segera bertemu dengan kampung halaman tercinta. Kampung kelahiran yang menyimpan beribu kenangan, saat masih anak-anak, saat masih sekolah, dan teman-teman yang entah kini ada di mana. 
   Setiap kali menginjakkan kaki di kampung halaman, rasanya sungguh beda. Hati tiba-tiba menjadi lapang. Pikiran sumpek jadi hilang. Sungguh sangat asri pemandangan alam yang jauh dari hingar bingar kota besar. Ingin rasanya tinggal berlama-lama di kampung halaman, melepaskan beban pikiran akibat kerja yang tak berkesudahan. Salam peluk cium berhamburan di tengah sanak famili. Ada berjuta ceria di sana, bersilaturahim setelah sekian lama tak bertemu. "Taqabballallahu minnaa wa minkum, shiyaamanaa wa shiyaamakum. Minal 'aidzin wal fa'izin. Mohon maaf lahir batin."
    Itulah fenomena mudik lebaran yang terjadi setiap tahun. Ada banyak hikmah dan makna di dalamnya. Ini mudik shaghir (mudik kecil). Kita sering mengalaminya.Namun ada lagi satu mudik yang kita belum pernah mengalaminya, yaitu mudik kabir (mudik besar)---saat kita pulang ke haribaan Allah 'Azza Wa Jalla. Kita pulang ke kampung halaman yang abadi di negeri akhirat. Inilah mudik yang hakiki. Jangan sampai, ketika kita melakukan mudik kecil diwarnai dengan kegembiraan dan keceriaan, tapi saat mudik besar untuk bertemu dengan-Nya diwarnai dengan ketakutan dan kesedihan. Mengapa?! Sebab...kita belum punya bekal yang cukup untuk mudik di akhirat, hingga kita merasa tidak tenang saat menghadapi kematian....
     Lalu solusinya apa?! Hanya satu, dengan iman dan takwa. Itulah bekal yang sebaik-baiknya untuk mudik ke negeri akhirat,
    "Berbekallah,dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa..." (QS. Al-Baqarah: 197)
     Semoga ibadah puasa Ramadhan yang kita jalani, menjadikan diri kita sebagai insan-insan yang bertakwa. Inilah harapan yang sesungguhnya dari ibadah Ramadhan yang dilakukan oleh kaum Muslimin di seluruh dunia, "La'allakum tattaquun.., agar kamu sekalian bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
   Selamat menikmati jamuan di akhir Ramadhan
  "Taqabballallahu minnaa wa minkum, shiyaamanaa wa shiyaamakum. Minal 'aidzin wal fa'izin.   Mohon maaf lahir batin." 
* Saefulloh M Satori
   www.saefullohmsatori.blogspot.com
   satori.saefulloh@gmail.com

Rabu, 16 September 2009

Mukjizat dan Khasiat Al-Qur`an (Buku Baru, Segera Terbit)

SEGERA TERBIT !

Judul         : Ensiklopedia Mukjizat & Khasiat Al-Qur`an
Penulis      : Imam Qurthubi (Penulis Tafsir Al-Qurtubi)
Judul Asli  : At-Tidzkar fi Afdhali Al-Adzkar
Jumlah      : 4 Jilid
Halaman   : 435 halaman
Ukuran     : 21,5 x 29 cm
Kertas      : Matpaper 150 gr, full colour, bergambar.
Cover       : Hardcover, fullcolour, laminating dop + spot
Harga       : Rp 1.000.000,--
Pemesanan : Penerbit Lentera Abadi, Grand ITC Permata Hijau,
E 34, Jl. Arteri Permata Hijau, Jakarta Selatan 
Tlp. (021) 53663348, Fax (021) 53663242  
 
Spesifikasi:

ENSIKLOPEDIA MUKJIZAT & KHASIAT AL-QUR`AN
Karya Fenomenal IMAM QURTHUBI, Penulis Kitab Klasik TAFSIR AL-QURTHUBI 
 
Biografi Imam Qurthubi
   Nama Dan Keturunannya
Dia adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farih Al-Anshari Al-Khazraji Al-Andalusi Al-Qurthubi, seorang ulama ahli tafsir.

    Kelahirannya
Imam Qurthubi Al-Andalusi dilahirkan di kota Qordofa, Andalusia (sekarang Spanyol dan Portugal), kurang lebih pada akhir abad ke-6 Hijriah. Beliau memiliki wawasan yang luas dalam ilmu fikih, nahwu (tata bahasa), qira`at (bacaan Al-Qur`an), balaghah (sastra), dan lughah (bahasa). Beliau datang ke Mesir seperti para ulama lainnya saat itu. Kemudian beliau menetap di daerah Munyah bin Al-Khushaib. Imam Qurthubi menghabiskan waktunya dengan beribadah dan menulis kitab.

   Murid-muridnya
Dalam berbagai literatur mengenai biografi beliau, tidak didapatkan informasi tentang nama-nama muridnya. Akan tetapi kami menyakini, ia banyak memiliki murid yang belajar kepada beliau. Allah telah merahmati beliau dengan keluasan ilmu dan pengetahuan pada masanya.

 
   Kehidupannya
Imam Qurthubi termasuk hamba yang saleh, ulama yang luas ilmunya, wara’ dan zuhud dalam kehidupan dunia. Hidupnya senantiasa disibukkan dengan beribadah dan menulis (berkarya, menelaah berbagai kitab dan mentahqiqnya). Beliau memiliki ciri khas dalam hal tertentu, yaitu ketika berjalan selalu memakai satu corak baju dan berkopiah.


    Perkataan Para Ulama
Imam Adz-Dzahabi berkata dalam Tarikh Al-Islam, “Alamah Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farih, Imam Al-Qurthubi, adalah seorang imam yang cerdas, ilmunya luas dan telah menulis banyak karya yang bermanfaat. Hal ini menunjukan bahwa beliau banyak melakukan penelitian. Juga menunjukkan kepintaran dan keistimewaan beliau, sebagaimana dapat dilihat dalam kitab Tafsirnya. Beliau juga mengarang kitab Al-Asna fi Syarh Asma`ullahi Al-Husna dan At-Tadzkirah. Karya-karyanya ini menunjukan kecerdasan dan keluasan ilmunya. Beliau banyak belajar, menulis, dan menelaah. Pemahamannya bagus. Ilmunya luas dan mendalam. Karya-karya tulisnya sistematis. Beliau rajin menghafal, dan sangat kuat hafalannya.”

   Karya-karyanya
Imam Qurthubi memiliki banyak karya tulis, di antaranya:
1.    Jami’ Ahkam Al-Qur`an w a Al-Mubin lima Tadhammana min As-Sunnah wa Ayil Furqan. Kitab ini merupakan tafsir Al-Qur`an (Tafsir Al-Qurthubi) yang terdiri dari 20 jilid; diterbitkan oleh Darul Kutub Al-Mishriyah. Kitab Tafsir ini memiliki nilai yang tinggi dan banyak manfaatnya. Juga terhindar dari cerita-cerita palsu dan terpelihara dari sejarah-sejarah dusta. Di samping itu berisi pula hukum-hukum dalam Al-Qur`an,  istinbath (pengambilan atau sandaran) dalil dengan menyebutkan qira`ah, i’rab, nasikh dan mansukh.
2.    Al-Intihar fi Qura`i Ahli Al-Kufah wa Al-Bashrah wa Asy-Syam wa Ahli Al-Hijaz.
3.    Al-Asnâ fî Syarh Asmâ`illâhi Al-Husnâ.
4.    Syarh At-Taqshî.
5.    Qam’u Al-Harsh bi Az-Zuhdi wa Al-Qanâ’ah, Wurida Dzallu As-Su`âl bi Al-Kutub wa Asy-Syafâ’ah.
6.    At-Tadzkirah bi Ahwâli Al-Mawtâ wa Umûri Al-Akhirah.
7.    Arjûzah Jumi’a fîhâ Asmâ`u An-Nabiyyi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
8.    At-Tidzkâr fî Afdhali Al-Adzkâr; kitab (ensiklopedia) yang berada di hadapan Pembaca yang mulia ini.
   
    Wafatnya
Imam Qurthubi rahimahullah wafat di Munyah bin Al-Khushaib di Mesir selatan, dan dimakamkan di sana pada malam senin 9 Sawal 671 H. Mudah-mudahan Allah merahmati dan menempatkannya di tempat yang mulia.


   Daftar Isi

    JILID 1
Pengantar                                                                 
Pendahuluan                                                               
Biografi Imam Qurthubi                                                    
Prakata Penulis                                                           
Bab 1: Al-Qur`an adalah Kalam Allah, Bukan Mahluk                                 
Bab 2: Al-Qur`an Diturunkan, Nama-Namanya, Susunan Surat-Surat dan Ayat-ayatnya          
Bab 3: Al-Qur`an Diturunkan dengan Tujuh Dialek                                              
Bab 4: Keutamaan Al-Qur`an dan Ketika Al-Qur`an Dibacakan Pintu-Pintu Langit Terbuka                          
Bab 5: Kedudukan Al-Qur`an Lebih Tinggi Dibandingkan Kitab-Kitab Lainnya                                 
Bab 6: Keutamaan Sebagian Ayat Al-Qur`an atas sebagian Ayat Lainnya                           
Bab 7: Al-Qur`an adalah Zikir yang Paling Utama                                       
Bab 8: Penjelasan tentang Firman Allah Surat Fathir Ayat                          
Bab 9: Keutamaan Orang yang Hafal Al-Qur`an dan Mengamalkannya                     
Bab 10: Perumpamaan Orang yang Membaca Al-Qur`an dan Mengamalkannya                      
Bab 11: Kedudukan Orang yang Pintar Membaca Al-Qur`an                                   
Bab 12: Al-Qur`an sebagai Penolong                                           
Bab 13: Adab Orang yang Mempelajari Al-Qur`an                                    
Bab 14: Perintah Mempelajari, Mengikuti, dan Berpegang Teguh Pada Al-Qur`an                   
  
   JILID 2
Bab 15: Hamba yang Paling Utama adalah Hamba yang Beriman dan Mengamalkan Al-Qur`an                   
Bab 16: Tilawah Al-Qur`an dalam Salat adalah Amaliah yang Paling Utama                         
Bab 18: Khatam Al-Qur`an dan Anjurannya                                    
Bab 19: Hati Menjadi Tenang dengan Tilawah Al-Qur`an                                
Bab 20: Ilmu dan Al-Qur`an adalah Warisan Para Nabi                                  
Bab 21: Hal-Hal yang Diperbolehkan dan Dilarang dalam Meminta Sesuatu dengan Al-Qur`an                  
Bab 22: Perintah untuk Memperbanyak Tilawah Al-Qur`an                             
Bab 23: Ketenangan Orang yang Membaca Al-Qur`an dan Perintah untuk Membiasakannya                 
Bab 24: Membaca Al-Qur`an di Dalam Salat atau di Luar Salat, Pembaca dan Pendengar Mendapatkan
             Pahala yang Besar    
Bab 25: Pahala Orang yang Membaca Al-Qur`an dengan Cara Mengi'rabkannya                      
Bab 26: Keutamaan Membaca Al-Qur`an dengan Cara Sirr (tidak Keras) Dibandingkan dengan Cara Jahr
             (Keras)          
Bab 27: Mempelajari Al-Qur`an dan Mengajarkannya                                
Bab 28: Mempelajari Al-Qur`an akan Menangkal Segala Bahaya
                        
    JILID 3
Bab 29: Menerima Upah dalam Mengajarkan Al-Qur`an                                   
Bab 30: Rumah Menjadi Bercahaya dan Mendapat Kebaikan yang Berlimpah karena di Dalamnya Sering Dibacakan Al-Qur`an  
Bab 31: Membaca Al-Qur`an dengan Cara yang Cermat dan Perlahan-Lahan                            
Bab 32: Membaguskan Suara dalam Membaca Al-Qur`an, Meninggalkan Bacaan yang Berulang-ulang...       
Bab 33: Tata Krama yang Harus Dilakukan oleh Orang yang Membawa Al-Qur`an dan Pembacanya sebagai Pengagungan... 
Bab 34: Pengertian tentang Pengemban Al-Qur`an, Siapa saja Orangnya, dan Orang yang Menentang Al-Qur`an
       
    JILID 4
Bab 35: Menangis karena Takut Kepada Allah Ketika Membaca Al-Qur`an, Mendengarnya, dan Hal-hal Lain yang Berkaitan...   
Bab 36: Getaran Hati dan Rasa Takut Ketika Mendengar dan Membaca Al-Qur`an                 
Bab 37: Al-Qur`an sebagai Syafa'at dan Pemberi Syafa'at                                  
Bab 40: Sikap Hati-Hati terhadap Hadis-hadis yang Berisi tentang Keutamaan Surat dan Ayat dalam Al-Qur`an, infomasi-informasi yang berkaitan dengan hal itu dan khasiatnya.
RUJUKAN TENTANG KEUTAMAAN SURAT
DAN AYAT DALAM AL-QURAN DAN KHASIATNYA
- KHASIAT SURAT AL-FATIHAH
- KHASIAT SURAT AL-BAQARAH
- KHASIAT SURAT ALI IMRAN
- KHASIAT SURAT ALI IMRAN AYAT 18
- KHASIAT SURAT ALI IMRAN AYAT 26
- KHASIAT SURAT ALI IMRAN AYAT 83
- KHASIAT SURAT ALI IMRAN AYAT 173
- KHASIAT SEPULUH AYAT TERAKHIR SURAT ALI IMRAN
- KHASIAT 5 AYAT PENUTUP SURAT ALI IMRAN
- KHASIAT SURAT AN-NISA'
- KHASIAT SURAT AL-MAIDAH
- KHASIAT SURAT AL-AN'AM
- KHASIAT 6 AYAT TERAKHIR SURAT AL-AN'AM
- KHASIAT AYAT 67 SURAT AL-AN'AM
- KHASIAT SURAT AL-A'RAF
- KHASIAT SURAT YUNUS
- KHASIAT SURAT HUD
- KHASIAT SURAT AR-RA'DU
-.......dan khasiat-khasiat surat-surat lainnya yang dijelaskan secara terperinci dalam ensiklopedia ini.

Sinopsis
ENSIKLOPEDIA MUKJIZAT & KHASIAT AL-QUR`AN ini mempunyai banyak keutamaan. Ensiklopedia ini ditulis oleh IMAM QURTHUBI AL-ANDALUSI, seorang ulama terkemuka di masanya. Sampai saat ini namanya dikenal oleh kaum Muslimin. IMAM QURTHUBI adalah seorang ulama ahli tafsir, dan dikenal sebagai penulis kitab klasik TAFSIR AL-QURTHUBI yang merupakan khazanah intelektual dan dijadikan sebagai referensi bagi kaum cendikiawan, dari masa dahulu hingga sekarang.

Adapun buku ENSIKLOPEDIA MUKJIZAT & KHASIAT AL-QUR`AN ini, merupakan karya fenomenal lainnya dari Imam Qurthubi. Di dalamnya dijelaskan tentang berbagai macam keutamaan, mukjizat, keistimewaan, dan khasiat yang terkandung di dalam surat-surat dan ayat-ayat Al-Qur`an. Ensiklopedia ini sangat berguna bagi siapa saja yang ingin mempelajari lebih dalam tentang keistimewaan dan khasiat Al-Qur`an untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

PESAN SEKARANG JUGA!
Pemesanan : Penerbit Lentera Abadi, Grand ITC Permata Hijau,
                    E 34, Jl. Arteri Permata Hijau, Jakarta Selatan 
                    Tlp. (021) 53663348, Fax (021) 53663242 

Atau bisa pula menghubungi Saefulloh M Satori
email: satori.saefulloh@gmail.com, atau via HP. 0857 822 65112 (Saefulloh M Satori)
 

 



Selasa, 15 September 2009

HANYA ENGKAU DI HATIKU

Judul tulisan yang menggetarkan sukma itu mengingatkan diriku pada firman-Nya,
“Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)
Benarkah cinta kita sangat besar kepada-Nya?! Adakah kecocokan antara lidah dan perbuatan?! Sungguh, ayat di atas telah menggugah kesadaran, hingga aku menjadi teramat malu untuk mengakuinya. Sungguh teramat jauh antara pengakuan dan perlakuan, antara ucapan manis di bibir dan perbuatan yang menodai janji suci. Lalu kita pun mengakuinya dengan penuh penyesalan. Hati meratap, asa berpaling, lalu bibir yang penuh dusta ini merintih lirih, “Oh, andai aku menjadi sebutir debu!”
Hanya airmata yang mengalir di pipi. Jiwa membisu. Hati merintih menahan perih. Ya Allah, hamba telah sekian lama berpaling dari Cinta-Mu. Hamba bertobat kepada-Mu. Hamba rindu untuk kembali pada-Mu, sebagaimana kerinduan bapak-ibu moyang kami, Adam dan Hawa ‘alihimas salam; saat keduanya Engkau keluarkan dari surga-Mu. Sebagaimana rindunya Yunus ‘alaihis salam untuk kembali bertemu, saat Engkau masukkan beliau dalam perut ikan-Mu. Sebagaimana rindunya Yusuf ‘alaihis salam untuk menyampaikan kebenaran, saat beliau masuk dalam penjara Cinta-Mu. Sebagaimana para kekasih yang kembali berlabuh menuju Cinta-Mu, saat mereka telah lama tersesat oleh tipu daya dunia.
Duhai, jangan biarkan kaki ini melangkah menuju Cinta-Mu dengan noda darah dan dosa. Duhai nafsu, jangan hiraukan godaan manisnya dunia yang merengek-rengek di belakangmu. Abaikan saja sentimentalitas yang menguasai jiwa, saat mereka menghadang di hadapanmu sambil berteriak-teriak, “Hai fulan! Orang-orang sibuk menuntut ilmu di kota-kota untuk meraih kemewahan dunia, sedangkan kamu...mana?!”
Jawablah ocehan mereka itu, “Wahai kalian yang telah terperdaya oleh kemilau dunia, dulu aku menuntut ilmu untuk meriah seperti apa yang kalian harapkan. Namun setelah beratus-ratus profesor doktor berbicara di majlis-majlis ilmu, dan setelah beribu-ribu kitab aku baca dengan linangan airmata, aku hanya mendapatkan satu kalimat sederhana, “Jangan biarkan ilmu membakar dirimu karena hawa nafsu, tapi bakarlah hawa nafsumu semata-mata untuk meraih Cinta-Nya dengan ilmu yang ada pada dirimu.”
Mereka tertawa. Sangat menyakitkan! Sungguh, mereka telah tergila-gila oleh gemerlapnya dunia. Mereka telah terpenjara oleh cinta dunia. Wahai, biarkan saja mereka!
Aku hanya menangisi mereka. Sementara jiwaku kian merana setelah sekian lama mendustai Cinta-Nya.
“Alloohu Habiibii...!”
“Alloohu Habiibii...!”
“Allah kekasihku....Allah Cinta-Ku...!”
Syahadat Cinta itu sering mengguman di bibir; dalam kebisuan malam.Menggigil seluruh tubuh, sementara airmata tak habis-habisnya membasahi sajadah malamku. Dulu...!
Namun semua itu hanyalah syahadat cintaku yang palsu. Lalu segalanya tiba-tiba berubah, seperti alam pedesaanku yang juga banyak berubah, setelah sekian lama aku tinggalkan untuk meraih berjuta ambisi di tengah hiruk-pikuknya hedonisme Ibukota. Hamparan padi menguning, menyembul di kanan-kiri rumah-rumah mewah.
Hari-hari selanjutnya adalah perenungan yang teramat panjang. Aku telah kehilangan kekuatan, karena telah berpaling dari Cinta-Nya,hingga membuat Rabb menjauh dari hatiku. Aku segera bercermin pada kehidupan para nabi, rasul, shahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, generasi salaf, dan para ulama yang mulia-mulia di zamannya. Saat pengembaraan spiritualku berlabuh pada sosok Musa ‘alaihis salam, sungguh ada rasa kerdil di dalam diri ini. Betapa tidak. Beliau telah mampu mengaktualisasikan Cinta kepada-Nya, hingga membuat-Nya patuh saat menginginkan-Nya terlihat dalam pandangan mata. Kekasih ingin melihat Wajah Kekasih. Walau untuk yang satu itu, Musa harus merasa puas hanya merasakan kehadiran Kekasihnya dalam pendar-pendar cahaya yang memancar hebat, lalu pingsan seketika. Kekasih tergelepar di hadapan Sang Kekasih, tak kuasa menahan rindu dendam oleh kemilau Cinta-Nya.
Kehadiran Sang Kekasih membuat jiwa menggigil. Silau. Gemetar. Rindu menggelora. Sungguh, Maha Besar Cahaya Cinta Sang Kekasih, hingga mampu menembus relung-relung jiwa, hingga gunung batu pun meledak terbakar oleh Cahaya Cinta-Nya.
Itulah kemilau cinta Musa ‘alaihis salam terhadap Rabb-Nya. Begitu dahsyat. Sementara cintaku? Duhai sebesar apa kadar cintaku dalam menggapai Cinta-Nya?! Jiwa ini hanya membisu dan tertunduk malu.
Lalu muncul sosok Ibrahim ‘alaihis salam. Ketakwaan dan kadar cintanya yang besar kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, telah menciptakan keajaiban-keajaiban di zamannya. Ujian pun datang bertubi-tubi, tapi tak sedikit pun menggoyahkan iman dan kadar cinta kepada-Nya. Justru semakin menambah kekuatan iman, takwa dan cinta pada-Nya. Tubuhnya dibakar oleh raja yang sangat zalim, tapi api yang panas membara tiba-tiba berubah menjadi dingin. Duhai api itu, tak sedikit pun mampu membakar seorang kekasih-Nya. Cinta yang membara dalam jiwa, tak dapat dikalahkan oleh panasnya api kebencian dari makhluk-makhluk-Nya yang hina-dina.
Itulah derajat cinta yang sangat tinggi dari seorang kekasih bernama Ibrahim ‘alaihis salam, hingga layaklah bila Allah ‘Azza Wa Jalla memberi gelar kepada beliau sebagai khalilullah: kesayangan Allah; kekasih Allah,
“Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa`: 125)
Pengembaraan spiritualku beralih pada sosok manusia terbaik di jagat raya ini, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Beliau adalah makhluk yang paling dicintai dan disayangi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini membuat banyak orang terkagum-kagum. Suatu ketika, Abu Thalib, paman beliau berkata, “Wahai keponakanku, aku melihat sepertinya Tuhanmu sangat patuh padamu.”
Mendengar penuturan pamannya itu, Rasulullah berkata, “Wahai pamanku, kalau saja engkau beriman dan bertakwa kepada Tuhanku, Dia akan patuh juga kepadamu.”
Subhanallah! Demikian besar kadar dan derajat cinta beliau kepada-Nya. Hal ini dibuktikan sepanjang hayat beliau. Bahkan ketika Islam telah mencapai puncak kejayaannya, beliau lebih memilih untuk segera bertemu dengan-Nya. Beliau tidak ingin jadi raja, tapi lebih memilih kematian untuk segera bertemu dengan Kekasih Sejati. Kadar cinta beliau kepada-Nya, jauh melebihi kecintaan kepada harta, anak, istri,dan jabatan kekuasaan. Padahal, saat itu beliau sedang berada di puncak kejayaannya, tanpa ada yang berani merebutnya. Beliau lebih memilih hidup seadanya bersama fakir miskin, hingga ajal menjemput. Beliau lebih memilih Cinta-Nya.
Sesungguhnya masalah Mahabbatullah (Mencintai Allah), merupakan sesuatu yang sangat urgen dalam kehidupan kita. Karena cinta kepada Allah merupakan refleksi dari kadar iman, Islam, ihsan, dan takwa seseorang. Mungkin bagi sebagian kaum Muslimin yang kalbu dan pikirannya telah tercemar oleh virus-virus hedonisme dan materialisme, mereka memandang sinis tentang esensi Mahabbatullah ini. Menurut mereka, kecintaan yang mendalam kepada Tuhan, bukan murni dari ajaran Islam, tapi berasal dari doktrin agama lain yang menyusup dalam ajaran Islam. Lalu lahirlah ajaran tasawuf dengan para tokoh sufinya yang terkenal.
Pendapat tersebut tidak semuanya benar. Sebab, banyak ayat Al-Qur`an dan Hadis Shahih yang mengajarkan tentang esensi Mahabbatullah ini. Jadi bukan suatu doktrin yang menyesatkan. Namun entah mengapa, banyak di antara para tokoh Islam yang mengaku-aku berpikiran modernis, mereka justru mengecam ajaran yang jelas-jelas barasal dari Al-Qur`an dan Hadis Shahih itu.
Para tokoh itu kerap mengeritik kehidupan para pemuja Cinta Illahi, sebab hanya menjadi biang keladi kemunduran kaum Muslimin.
Kemunduran yang mana?! Lalu siapa bilang?!
Sejarah menjadi saksi, justru dengan iman, ihsan, takwa, dan cinta yang kuat kepada-Nya telah menyulap kaum Muslimin menjadi maju dan menguasai peradaban dunia. Justru sebaliknya, penyakit hubbud dunya (cinta dunia), karohiyatul maut (benci kematian), dan hubbusy syahawat (mencintai kecenderungan syahwat) dan memuja-muja hawa nafsu yang membuat kaum Muslimin berangsur-angsur mundur dari pentas peradaban dunia, setelah mendominasi peradaban di bumi ini.
Oleh karenanya, untuk mengembalikan kejayaan kaum Muslimin, haruslah dihidupkan kembali dengan Cahaya Cinta-Nya, cinta kepada Rasul-Nya, cinta kepada syariat-Nya, cinta kepada kehidupan mulia, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan semangat Cinta yang membara kepada-Nya, pasti Allah akan memberikan Cahaya Cinta-Nya kepada kita. Allah akan bersama kita, memberikan pengayoman, perlindungan, dan kasih sayang-Nya. Kapan dan di mana pun kita berada, khususnya kepada kaum Muslimin di negeri pertiwi ini, umumnya kepada kaum Muslimin di segala penjuru negeri, dan terhadap kehidupan umat secara keseluruhan di bawah Cahaya Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin; agama yang menjadi benih-benih cinta kasih bagi semesta alam.*

HANYA ENGKAU DI HATIKU