Rabu, 21 Oktober 2009

RENUNGAN KEPEMIMPINAN UMAT



Presiden yang Dirindukan Surga

Pasangan presiden dan wapres terpilih Susilo Bambang Yudoyono & Boediono telah dilantik untuk memimpin bangsa ini untuk periode 2009-2014. Banyak sikap dan komentar yang bermunculan atas pelantikan presiden dan wapres terpilih itu. Sebagian masyarakat memandangnya dengan perasaan optimis dan penuh harapan terhadap kepemimpinan SBY-Boediono. Akan tetapi, sebagian elemen masyarakat merasa pesimis dengan duet kepemimpinan kedua putra bangsa itu. Artinya, mereka tidak yakin akan terjadi perubahan positif yang signifikan bagi bangsa yang sedang menghadapi carut-marut persoalan yang tiada henti-hentinya ini.


Sebagai negara yang berpenduduk Muslim terbesar di planet bumi ini, bangsa Indonesia sangat menaruh harapan kepada presidennya. Di pundak sang presiden beserta jajarannya terletak harapan dan impian anak-anak bangsa. Mereka sangat merindukan kepemimpinan yang sangat peduli dengan nasib rakyatnya, baik rakyat dari kalangan menengah ke atas, maupun dari kalangan menengah ke bawah. Pemimpin yang adil, arif dan bijak. Bukan hanya adil, arif, dan bijak pada golongan tertentu, tetapi semua lapisan masyarakat sampai akar rumput. Di pundak presiden dan para jajarannya terpikul tanggung jawab yang sangat berat, yaitu tanggung jawab kepemimpinan. Tugas kepemimpinan yang super berat itu, bukan hanya dimintai pertanggung jawabannya di dunia, tetapi juga di akhirat. Bahkan di akhiratlah tanggung jawab itu akan dikupas habis dalam Mahkamah Pengadilan Ilahiyah, hingga nilai-nilai keadilan dan kebenaran akan terkuak dengan jelas, tanpa ada rekayasa.


Dalam terminologi Islam, tanggung jawab kepemimpinan mendapatkan perhatian yang sangat besar, sebab hal itu menyangkut nasib umat, bangsa, atau masyarakat luas. Dalam satu sisi, kepemimpinan sentral dianggap sebagai beban yang sangat berat, tetapi di sisi lain, ia dapat dijadikan sebagai "loncatan amal" dan "kesempatan sangat berharga" untuk meraih kedudukan yang sungguh-sungguh mulia di negeri akhirat, dengan syarat ia harus menjadi pemimpin yang benar-benar adil, arif, bijak, dan menjalankan syariat-Nya. Bila hal itu benar-benar diaplikasikan oleh seorang pemimpin bangsa (umat), maka ia akan mendapatkan kompensasi pahala yang sungguh luar biasa: ia akan mendapatkan perlindungan Allah 'Azza Wa Jalla di hari Kiamat. Subhanahllah!


Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,
"Tujuh macam golongan orang yang akan mendapatkan naungan (perlindungan) Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan Allah, yaitu:
(1) pemimpin yang adil,
(2) pemuda yang rajin beribadah kepada Allah,
(3) orang yang hatinya selalu tertambat dengan masjid,
(4) dua orang yang berkasih sayang karena Allah, baik saat berkumpul maupun ketika berpisah,
(5) lelaki yang diajak berzina oleh wanita cantik dari kalangan bangsawan, lalu ia menolaknya dengan mengatakan, "Saya takut kepada Allah",
(6) orang yang bersedekah dengan cara sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya,
(7) orang yang berzikir kepada Allah di saat yang sunyi, lalu kedua matanya berlinang airmata (karena takut dan rindu kepada Allah)." (HR. Bukhari dan Muslim)


Sebaliknya, pemimpin yang tidak adil, suka menipu, gemar berbohong, dan kejam kepada rakyat, maka ia haram masuk ke dalam surga-Nya.


Diriwayatkan dari Abu Ya'la Ma'qil bin Yasar radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


"Tiada seorang pun yang diamanati oleh Allah untuk memimpin rakyat, kemudian ketika ia meninggal dunia dalam kondisi menipu rakyatnya, maka Allah pasti mengharamkan surga baginya." (HR. Muslim)


Diharamkan surga dalam konteks hadis tersebut di atas, dengan kata lain ia mendapat suatu kepastian di akhirat berupa azab api neraka. Na'udzubillah.


Dari kedua hadis shahih di atas, dapat direnungkan, bahwa kepemimpinan merupakan "lahan subur pahala" bagi seseorang yang mendapatkan amanat kepemimpinan. Sebaliknya, kepemimpinan juga merupakan "kubangan lumpur penuh dosa" bagi para pemimpin yang menyalahi amanat kepemimpinan bagi rakyatnya.


Semoga para pemimpin bangsa ini, mulai dari presiden, wapres, MPR, DPR, para menteri, dan jajaran kepemimpinan lainnya, dapat menjalankan amanat kepemimpinan dengan sebaik-baiknya.


Wahai para pemimpin umat, selamat menjalankan amanat yang sungguh berat ini...!

0 komentar:

Poskan Komentar