Kamis, 17 September 2009

MUDIK...YUK

Tidak terasa bulan Ramadhan 1430 H beberapa hari lagi akan berlalu. Bulan Ramadhan akan meninggalkan kita. Hampir satu bulan kita telah bercengkerama dengannya, dengan diliputi rasa haru, karena masih ada saja kekurangan yang mengganjal dalam kapasitas ibadah kita. 
   Sukses tidaknya kita di bulan Ramadhan ini tergantung dari amaliah-amaliah kita selama bulan puasa itu. Hati kita sendiri yang dapat menimbang-nimbang, sebesar apa nilai ibadah-ibadah yang telah kita jalani dalam penggemblengan di bulan Ramadhan. Jangan-jangan yang kita dapatkan hanya rasa lelah, lapar dan dahaga. Artinya, puasa Ramadhan sama sekali tidak membekas dalam jiwa kita. Semoga Allah 'Azza Wa Jalla senantiasa memaafkan segala khilaf dan kesalahan kita di bulan yang penuh berkah dan ampunan ini.
    Namun, lagi-lagi kesibukan duniawi selalu saja hadir di pelupuk mata. Belum lagi rasa lelah menghinggapi keseharian kita, muncul pula keinginan luar biasa untuk segera hengkang dari segala rutinitas. 
   "Mudik! Hayo cepat mudik!" 
   Bisikan kata-kata itu kian kuat menembus asa. Pulang kampung, Mas...Cepetan....Orang-orang tua dan sanak famili sudah lama menunggu di sana. Ingin bertemu dengan dirimu. Jangan mikirin kerjaan melulu. Sekali-kali refreshing, kek...Nih kita yang di kampung nyante aja masih bisa hidup, gak kayak yang di Jakarta. Tapi, ngomong-ngomong THR nya lumayan juga. Bagi dong....Bagi-bagi sedekah. Kita-kita yang di kampung ingin rasain manisnya duit orang-orang Jakarta. Beda loh rasanya...
    Demikian celotehan sanak famili di kampung...Mereka pikir orang-orang kerja di Jakarta banyak duitnya....Padahal, iya sih...terutama mereka yang bergaji besar. Tapi bagi karyawan biasa...?! Ah, jangan tanya itu, bisa-bisa bikin malu. Gengsi dong kerja jauh-jauh di Ibukota kalau hanya bergaji pas-pasan.
    Kendaraan para pemuduk terus melaju. Keceriaan tampak jelas di wajah mereka. Walau jalan raya macet dan tiket mahal, namun tidak mengurangi keceriaan mereka untuk segera bertemu dengan kampung halaman tercinta. Kampung kelahiran yang menyimpan beribu kenangan, saat masih anak-anak, saat masih sekolah, dan teman-teman yang entah kini ada di mana. 
   Setiap kali menginjakkan kaki di kampung halaman, rasanya sungguh beda. Hati tiba-tiba menjadi lapang. Pikiran sumpek jadi hilang. Sungguh sangat asri pemandangan alam yang jauh dari hingar bingar kota besar. Ingin rasanya tinggal berlama-lama di kampung halaman, melepaskan beban pikiran akibat kerja yang tak berkesudahan. Salam peluk cium berhamburan di tengah sanak famili. Ada berjuta ceria di sana, bersilaturahim setelah sekian lama tak bertemu. "Taqabballallahu minnaa wa minkum, shiyaamanaa wa shiyaamakum. Minal 'aidzin wal fa'izin. Mohon maaf lahir batin."
    Itulah fenomena mudik lebaran yang terjadi setiap tahun. Ada banyak hikmah dan makna di dalamnya. Ini mudik shaghir (mudik kecil). Kita sering mengalaminya.Namun ada lagi satu mudik yang kita belum pernah mengalaminya, yaitu mudik kabir (mudik besar)---saat kita pulang ke haribaan Allah 'Azza Wa Jalla. Kita pulang ke kampung halaman yang abadi di negeri akhirat. Inilah mudik yang hakiki. Jangan sampai, ketika kita melakukan mudik kecil diwarnai dengan kegembiraan dan keceriaan, tapi saat mudik besar untuk bertemu dengan-Nya diwarnai dengan ketakutan dan kesedihan. Mengapa?! Sebab...kita belum punya bekal yang cukup untuk mudik di akhirat, hingga kita merasa tidak tenang saat menghadapi kematian....
     Lalu solusinya apa?! Hanya satu, dengan iman dan takwa. Itulah bekal yang sebaik-baiknya untuk mudik ke negeri akhirat,
    "Berbekallah,dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa..." (QS. Al-Baqarah: 197)
     Semoga ibadah puasa Ramadhan yang kita jalani, menjadikan diri kita sebagai insan-insan yang bertakwa. Inilah harapan yang sesungguhnya dari ibadah Ramadhan yang dilakukan oleh kaum Muslimin di seluruh dunia, "La'allakum tattaquun.., agar kamu sekalian bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
   Selamat menikmati jamuan di akhir Ramadhan
  "Taqabballallahu minnaa wa minkum, shiyaamanaa wa shiyaamakum. Minal 'aidzin wal fa'izin.   Mohon maaf lahir batin." 
* Saefulloh M Satori
   www.saefullohmsatori.blogspot.com
   satori.saefulloh@gmail.com

0 komentar:

Poskan Komentar