“Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)
Benarkah cinta kita sangat besar kepada-Nya?! Adakah kecocokan antara lidah dan perbuatan?! Sungguh, ayat di atas telah menggugah kesadaran, hingga aku menjadi teramat malu untuk mengakuinya. Sungguh teramat jauh antara pengakuan dan perlakuan, antara ucapan manis di bibir dan perbuatan yang menodai janji suci. Lalu kita pun mengakuinya dengan penuh penyesalan. Hati meratap, asa berpaling, lalu bibir yang penuh dusta ini merintih lirih, “Oh, andai aku menjadi sebutir debu!”
Hanya airmata yang mengalir di pipi. Jiwa membisu. Hati merintih menahan perih. Ya Allah, hamba telah sekian lama berpaling dari Cinta-Mu. Hamba bertobat kepada-Mu. Hamba rindu untuk kembali pada-Mu, sebagaimana kerinduan bapak-ibu moyang kami, Adam dan Hawa ‘alihimas salam; saat keduanya Engkau keluarkan dari surga-Mu. Sebagaimana rindunya Yunus ‘alaihis salam untuk kembali bertemu, saat Engkau masukkan beliau dalam perut ikan-Mu. Sebagaimana rindunya Yusuf ‘alaihis salam untuk menyampaikan kebenaran, saat beliau masuk dalam penjara Cinta-Mu. Sebagaimana para kekasih yang kembali berlabuh menuju Cinta-Mu, saat mereka telah lama tersesat oleh tipu daya dunia.
Duhai, jangan biarkan kaki ini melangkah menuju Cinta-Mu dengan noda darah dan dosa. Duhai nafsu, jangan hiraukan godaan manisnya dunia yang merengek-rengek di belakangmu. Abaikan saja sentimentalitas yang menguasai jiwa, saat mereka menghadang di hadapanmu sambil berteriak-teriak, “Hai fulan! Orang-orang sibuk menuntut ilmu di kota-kota untuk meraih kemewahan dunia, sedangkan kamu...mana?!”
Jawablah ocehan mereka itu, “Wahai kalian yang telah terperdaya oleh kemilau dunia, dulu aku menuntut ilmu untuk meriah seperti apa yang kalian harapkan. Namun setelah beratus-ratus profesor doktor berbicara di majlis-majlis ilmu, dan setelah beribu-ribu kitab aku baca dengan linangan airmata, aku hanya mendapatkan satu kalimat sederhana, “Jangan biarkan ilmu membakar dirimu karena hawa nafsu, tapi bakarlah hawa nafsumu semata-mata untuk meraih Cinta-Nya dengan ilmu yang ada pada dirimu.”
Mereka tertawa. Sangat menyakitkan! Sungguh, mereka telah tergila-gila oleh gemerlapnya dunia. Mereka telah terpenjara oleh cinta dunia. Wahai, biarkan saja mereka!
Aku hanya menangisi mereka. Sementara jiwaku kian merana setelah sekian lama mendustai Cinta-Nya.
“Alloohu Habiibii...!”
“Alloohu Habiibii...!”
“Allah kekasihku....Allah Cinta-Ku...!”
Syahadat Cinta itu sering mengguman di bibir; dalam kebisuan malam.Menggigil seluruh tubuh, sementara airmata tak habis-habisnya membasahi sajadah malamku. Dulu...!
Namun semua itu hanyalah syahadat cintaku yang palsu. Lalu segalanya tiba-tiba berubah, seperti alam pedesaanku yang juga banyak berubah, setelah sekian lama aku tinggalkan untuk meraih berjuta ambisi di tengah hiruk-pikuknya hedonisme Ibukota. Hamparan padi menguning, menyembul di kanan-kiri rumah-rumah mewah.
Hari-hari selanjutnya adalah perenungan yang teramat panjang. Aku telah kehilangan kekuatan, karena telah berpaling dari Cinta-Nya,hingga membuat Rabb menjauh dari hatiku. Aku segera bercermin pada kehidupan para nabi, rasul, shahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, generasi salaf, dan para ulama yang mulia-mulia di zamannya. Saat pengembaraan spiritualku berlabuh pada sosok Musa ‘alaihis salam, sungguh ada rasa kerdil di dalam diri ini. Betapa tidak. Beliau telah mampu mengaktualisasikan Cinta kepada-Nya, hingga membuat-Nya patuh saat menginginkan-Nya terlihat dalam pandangan mata. Kekasih ingin melihat Wajah Kekasih. Walau untuk yang satu itu, Musa harus merasa puas hanya merasakan kehadiran Kekasihnya dalam pendar-pendar cahaya yang memancar hebat, lalu pingsan seketika. Kekasih tergelepar di hadapan Sang Kekasih, tak kuasa menahan rindu dendam oleh kemilau Cinta-Nya.
Kehadiran Sang Kekasih membuat jiwa menggigil. Silau. Gemetar. Rindu menggelora. Sungguh, Maha Besar Cahaya Cinta Sang Kekasih, hingga mampu menembus relung-relung jiwa, hingga gunung batu pun meledak terbakar oleh Cahaya Cinta-Nya.
Itulah kemilau cinta Musa ‘alaihis salam terhadap Rabb-Nya. Begitu dahsyat. Sementara cintaku? Duhai sebesar apa kadar cintaku dalam menggapai Cinta-Nya?! Jiwa ini hanya membisu dan tertunduk malu.
Lalu muncul sosok Ibrahim ‘alaihis salam. Ketakwaan dan kadar cintanya yang besar kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, telah menciptakan keajaiban-keajaiban di zamannya. Ujian pun datang bertubi-tubi, tapi tak sedikit pun menggoyahkan iman dan kadar cinta kepada-Nya. Justru semakin menambah kekuatan iman, takwa dan cinta pada-Nya. Tubuhnya dibakar oleh raja yang sangat zalim, tapi api yang panas membara tiba-tiba berubah menjadi dingin. Duhai api itu, tak sedikit pun mampu membakar seorang kekasih-Nya. Cinta yang membara dalam jiwa, tak dapat dikalahkan oleh panasnya api kebencian dari makhluk-makhluk-Nya yang hina-dina.
Itulah derajat cinta yang sangat tinggi dari seorang kekasih bernama Ibrahim ‘alaihis salam, hingga layaklah bila Allah ‘Azza Wa Jalla memberi gelar kepada beliau sebagai khalilullah: kesayangan Allah; kekasih Allah,
“Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa`: 125)
Pengembaraan spiritualku beralih pada sosok manusia terbaik di jagat raya ini, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Beliau adalah makhluk yang paling dicintai dan disayangi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini membuat banyak orang terkagum-kagum. Suatu ketika, Abu Thalib, paman beliau berkata, “Wahai keponakanku, aku melihat sepertinya Tuhanmu sangat patuh padamu.”
Mendengar penuturan pamannya itu, Rasulullah berkata, “Wahai pamanku, kalau saja engkau beriman dan bertakwa kepada Tuhanku, Dia akan patuh juga kepadamu.”
Subhanallah! Demikian besar kadar dan derajat cinta beliau kepada-Nya. Hal ini dibuktikan sepanjang hayat beliau. Bahkan ketika Islam telah mencapai puncak kejayaannya, beliau lebih memilih untuk segera bertemu dengan-Nya. Beliau tidak ingin jadi raja, tapi lebih memilih kematian untuk segera bertemu dengan Kekasih Sejati. Kadar cinta beliau kepada-Nya, jauh melebihi kecintaan kepada harta, anak, istri,dan jabatan kekuasaan. Padahal, saat itu beliau sedang berada di puncak kejayaannya, tanpa ada yang berani merebutnya. Beliau lebih memilih hidup seadanya bersama fakir miskin, hingga ajal menjemput. Beliau lebih memilih Cinta-Nya.
Sesungguhnya masalah Mahabbatullah (Mencintai Allah), merupakan sesuatu yang sangat urgen dalam kehidupan kita. Karena cinta kepada Allah merupakan refleksi dari kadar iman, Islam, ihsan, dan takwa seseorang. Mungkin bagi sebagian kaum Muslimin yang kalbu dan pikirannya telah tercemar oleh virus-virus hedonisme dan materialisme, mereka memandang sinis tentang esensi Mahabbatullah ini. Menurut mereka, kecintaan yang mendalam kepada Tuhan, bukan murni dari ajaran Islam, tapi berasal dari doktrin agama lain yang menyusup dalam ajaran Islam. Lalu lahirlah ajaran tasawuf dengan para tokoh sufinya yang terkenal.
Pendapat tersebut tidak semuanya benar. Sebab, banyak ayat Al-Qur`an dan Hadis Shahih yang mengajarkan tentang esensi Mahabbatullah ini. Jadi bukan suatu doktrin yang menyesatkan. Namun entah mengapa, banyak di antara para tokoh Islam yang mengaku-aku berpikiran modernis, mereka justru mengecam ajaran yang jelas-jelas barasal dari Al-Qur`an dan Hadis Shahih itu.
Para tokoh itu kerap mengeritik kehidupan para pemuja Cinta Illahi, sebab hanya menjadi biang keladi kemunduran kaum Muslimin.
Kemunduran yang mana?! Lalu siapa bilang?!
Sejarah menjadi saksi, justru dengan iman, ihsan, takwa, dan cinta yang kuat kepada-Nya telah menyulap kaum Muslimin menjadi maju dan menguasai peradaban dunia. Justru sebaliknya, penyakit hubbud dunya (cinta dunia), karohiyatul maut (benci kematian), dan hubbusy syahawat (mencintai kecenderungan syahwat) dan memuja-muja hawa nafsu yang membuat kaum Muslimin berangsur-angsur mundur dari pentas peradaban dunia, setelah mendominasi peradaban di bumi ini.
Oleh karenanya, untuk mengembalikan kejayaan kaum Muslimin, haruslah dihidupkan kembali dengan Cahaya Cinta-Nya, cinta kepada Rasul-Nya, cinta kepada syariat-Nya, cinta kepada kehidupan mulia, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan semangat Cinta yang membara kepada-Nya, pasti Allah akan memberikan Cahaya Cinta-Nya kepada kita. Allah akan bersama kita, memberikan pengayoman, perlindungan, dan kasih sayang-Nya. Kapan dan di mana pun kita berada, khususnya kepada kaum Muslimin di negeri pertiwi ini, umumnya kepada kaum Muslimin di segala penjuru negeri, dan terhadap kehidupan umat secara keseluruhan di bawah Cahaya Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin; agama yang menjadi benih-benih cinta kasih bagi semesta alam.*

0 komentar:
Poskan Komentar